16 Okt 2009

Surat rindu untuk kamu

  • Tertanggal: 16 Oktober 2009
  • Teruntuk : kamu yang sudah mengambil hati saya
  • Pesan : tolong dijaga baik-baik, jangan sampai luka atau rusak dimakan zaman. Saya serius !
  • Sebuah pesan singkat pemberitahuan bahwa saya baru beli hp esia kamu sambut dengan sebuah phone call: "Ini siapa yaaa..??" *Oh. Nooooo...!!*
  • Perjalanan Plumpang - K.H. Mas Mansyur di jam-jam macet Jakarta yang jadi menyenangkan dengan adanya kamu.
  • Dering sms dan phone call hp esia baru.. Itu yang selalu berhasil membuat saya tersenyum, bahkan di saat-saat tersulit dalam hidup saya
  • Pembicaraan nan tidak penting dengan kamu selalu menginspirasi saya
  • Drama ala sinetron Punjabi bersudara yang (sejauh ini) berakhir jadi kenyataan ;)
  • Bunyi panggilan masuk di jam-jam pocong yang cuma mengabarkan insomnia kamu kambuh dan kamu minta ditemani
  • Kentang goreng...kentang goreng... dan sekali lagi... KENTANG GORENG !! XD
  • Percakapan di telfon yang mati setiap 5 menit sekali disaat saya mau nyanyi di depan SBY. *waktu yang tepat untuk bercakap teman..!*
  • Sebentuk pesta perpisahan dadakan di bilangan Menteng yang sukses membuat saya (sedikit) garing =p
  • Kesetiaan kamu menunggu saya rapat berjam-jam di kafe tepian kolam renang. That's sooo.. sweet. =)
  • Hal pertama yang kamu cari setibanya di kampus saya: WC !! XD
  • Pembicaraan tidak berkesudahan menyongsong matahari terbit. Herannya, dulu saya tidak pernah bosan berbincang dengan kamu !
  • Sebuah panggilan masuk yang dilanjutkan dengan obrolan tanpa batas yang hanya berbekal alasan: "lagi di jalan, temenin ngobrol supaya nggak ngantuk"
  • Kencan - maksud saya - Hang out pertama yang menurut kamu bukan tergolong sebagai "an ideal nite"
Puncaknya ...
  • Perpisahan nan tidak romantis di malam terakhir kamu di Jakarta, dengan skenario: "mau minta dvd yang aku pinjemin..." siiiiiiiinggg...
_no further comment_
Saya cuma mau bilang: "Saya kangen kamu, sungguh ..."
p.s: Thank you for these wonderful 2 years since I know you (again). I'll be glad to add another 77 x 7 pointers in the upcoming years. Or... u wanna join me ?? ;p
  • Cinta,
  • Saya
3Wishes ...

25 Sep 2009

Water World

Saya tipe penyuka rutinitas dan penggila hal2 normal yang tidak menantang. Tapi dalam 24 tahun hidup, beberapa kali saya melakukan hal-hal yang diluar batas wajar yang kurang bisa masuk akal sehat manusia normal.

Salah satunya sore ini, tanggal 8 September 2009

Saya berkunjung ke Sea World. Sendirian. Tanpa planning. 1 jam sebelum tempat rekreasi tersebut tutup. Begitu menyelesaikan inspeksi singkat saya dan masuk ke dalam mobil, akal sehat saya berjalan kembali dan saya tertawa keras sekali !!

Dengan membayar tiket seharga 4 hari makan siang (hal ini berarti selama 4 hari ke depan saya bakalan bawa bekal ke kantor..), saya masuk dan menikmati tempat rekreasi tersebut kalau tidak bisa dibilang menikmati kegilaan pribadi saya di sore itu.

Tujuannya ?? Yaaaaaaa sudah pasti liat ikan laaaaah. haha… Yes I’m insane. So why ??? Ada pertanyaan lain ? Kalo tidak, sekian dan terimakasih. Hahahaha…

Well.. perjalanan selama satu jam tersebut tentu saja tidak berakhir setelah saya selesai mengetik kalimat “sekian dan terimakasih” atau saya memasuki mobil avanza yang diparkir canggung di depan tempat rekreasi tersebut. Buat saya lebih dari sekedar rekreasi ke Sea World. Hari itu saya mendapat banyak pencerahan. Dan satu hal yang saya tau, rekreasi autis saya sore itu akan jadi pengalaman dan pelajaran berharga selama sisa hidup saya ke depan.

Well, ok.. daripada pada penasaran saya ngerjain apa aja di Sea World (walaupun sudah saya jelaskan tadi ke Sea World ya.. yang pasti liatt ikan) saya akan bercerita sedikit.. Mengambil sepercik kisah dan menuangkannya dalam sebuah tulisan.

Semoga bisa jadi inspirasi.

Itu doa saya.

Dengan sedikit ragu saya melangkah masuk ke lobby tempat pembelian tiket.. Melihat harga tiket.. Agak tercengang.. Melangkah menjauh dan mengambil tempat duduk di food court kecil… Sok2 nelfon sambil mikir jadi masuk atau enggak… dan VOILA ! Tanpa saya sadari kaki saya melangkah lagi ke tempat pembelian tiket dan tangan saya -yang kali ini kompak dengan kaki – mengeluarkan selembar uang 50.000-an dari dompet. Cling !! Sehelai tiket Sea World sudah di tangan sebelum saya sempat tersadar dari hipnotis yang dibuat oleh diri saya sendiri. Dilanjutkan dengan kaki yang melangkah masuk… cap tangan… Alakazaaamm !! Saya di dalam Sea World !

Akuarium berukuran sedang berisi ikan besar entah apa namanya menyambut saya. Saya terpana sebentar didepannya, mencoba masuk sejenak ke dalam ‘dunia mereka’ dan melupakan sejenak ‘dunia saya’. Di sana rasanya tenang, tidak banyak masalah, tidak banyak pekerjaan kecuali berenang kesana kemari, makan dan tidur. =p Beranjak ke akuarium kedua .. ketiga .. seterusnya.. saya menikmati dunia-dunia mereka. Ikan arwana.. piranha.. dragon sea.. buaya.. ikan-ikan hias kecil warna warni.. ika hiu ! Di akuarium yang saya sebutkan terakhir itu saya juga terpaku cukup lama. Saya mencoba ‘menyelam’ kedalam (dengan sedikit gemetar karna saya fobia kedalaman) Sebagian dari mereka bergerak cepat dan tangkas, beberapa diantaranya beristirahat di dasar kolam.

Setelah puas, saya bergegas ke akuarium paling fenomenal. Akuarium berbentuk terowongan menyambut saya malu-malu. Saya sedikit bergidik dan tadinya cuma mau melihat dari luar saja (sekali lagi karna saya fobia kedalaman) dan efek berada di dalam terowongan itu rasanya seperti tenggelam di dasar laut. Oh My God ! Enggak banget deh pastinya. Tapi kali ini kaki saya berkhianat ! Dia melangkah tanpa perintah otak. Tau-tau saya sudah berada di dalam. Kaki mengambil tempat di sebelah kanan yang ada eskavatornya (jadi nggak usah jalan kaki)

“Pintar !” ujar otakku.

Saya berjalan sembari membatu. Tapi anehnya dalam waktu beberapa menit saya merasa nyaman. Nyaman sekali berada di dalam terowongan ber AC. Nyaman berada dalam ‘dunia mereka’. Semesta kecil mereka yang aman. Beberapa ikan berlindung di balik karang, lainnya berkejaran kian kemari. Semua tampak senang. Di atas saya pari besar memayungi. Saya sedikit bergidik membayangkan apa jadinya jika terowongan ini runtuh, tapi seolah menenangkan, pari itu berenang tepat di atas kepala saya sehingga senyumnya tampak menenangkan. Tidak terasa ujung terowongan sudah tampak. Saya melangkah ke lantai diam dan berfoto di bawah pari (tentu saja saya meminta bantuan orang untuk mengambil foto saya). Keluar dari terowongan saya merasa happy.

Next destination: Touch Pool. Sekeluarnya dari terowongan misteri saya menghampiri touch pool. Judulnya touch pool tapi 10 menit di depannya tidak membuat saya kemudian bergegas menyentuh makhluk2 air berwujud ikan pari dan ikan hiu (fyi: saya juga fobia memegang ikan hidup). Tapi lagi-lagi.. kali ini tangan saya yang berkhianat. Pertama dia mencopot earphone yang bertengger di kuping, kemudian.. plung ! tangan kanan saya nyebur ke kolam dan membatu berharap tersentuh ikan. 1 menit.. 2 menit.. tidak ada ikan yang menghampiri. Saya mulai gerah, dan tangan kanan saya mulai mencari ikan untuk dipegang. GOSH !! Am I crazy or what ????!?! Lama kelamaan seorang mas-mas yang kasian melihat usaha saya menjaring ikan pake tangan menghampiri dan menarik seekor pari dilanjutkan dengan menggelitiknya tepat di bagian bawah tubuh licin itu. (Tindakan ini persis seperti saat saya menggodai miu. Hihi ) Pari itu menampakkan senyumnya lagi dan seperti ketagihan. Saya pun mencobanya. “Menggelitik Pari” nama permainan kali itu. Huahahahaha.. rasanya licin dan basah.. Puas dengan pari, sasaran saya selanjutnya hiu kecil. Tingkah lakunya sedikit lebih anggun dari pari yang menurut saya rada kecentilan.. Hahaha.. Hiu lebih cepat berenangnya dan hampir tidak mau dipegang. Tapi akhirnya sesekali saya berhasil menyentuh permukaan kulit yang rasanya kasar. Wohohoho.. Good job Nila Nafiri !

Tidak terasa satu jam berlalu, saya diusir satpam saat baru mau masuk ke museum Sea World. Sayang sekali saya baru menyadari Sea World tutup pk. 17:00 WIB.

Huaaaaaah… melewati pintu besi berputar, saya kembali ke dunia nyata. Dunia yang penuh dengan permasalahan. Keluar dari Sea World saya mendapat banyak pencerahan. Saya merasa baru keluar dari mesin cuci dan merasa bersih. Bahwa kehidupan manusia tidak sesederhana kehidupan para ikan, dan bahwa dunia kita serba complicated. Tapi saya senang berada disini, at least dunia saya tidak hanya sebesar akuarium disana, dan dunia saya penuh dengan kejutan dan tidak hanya dipenuhi dengan rutinitas makan minum berenang kesana kemari saja. (Eh.. ikan pake minum gak sih ??). Setelah melakukan rekreasi jiwa sore tadi, saya jadi manusia yang lebih berani mengahadapi hidup. Saya disadarkan bahwa ternyata saya bisa melakukan hal-hal diluar apa yang selama ini bisa saya pikirkan. Saya sendirilah yang seringkali membatasi kekuatan saya. Hohoho.. Saya tidak akan berbijak terlalu panjang karna ternyata pelajaran dan pengajaran terbaik adalah lewat pengalaman pribadi dan bukan teori orang lain.

Terimakasih untuk kesempatan ini. Semoga ada lain waktu.

Next plan: Lost in an island ! ;)

22 Jul 2009

Senja di Kantor Taman

Langit mulai senja saat dia beranjak keluar melewati pintu kaca. Sedikit tidak tergesa, perempuan di pertengahan usia 20-an tersebut melangkah. Angin musim hujan menyibak rambut panjangnya yang tergerai cantik di terusan merah menyala. Perempuan itu berhenti sejenak. Menyapu tatapannya ke sekeliling kawasan yang menaunginya selama beberapa bulan terakhir. Jalanan di depan kantornya masih sama seperti pertama kali dia keluar melewati pintu kaca yang itu. Tampak semrawut tidak sabar menunggu lampu menyala hijau, bunyi klakson mobil berlomba ingin didengar. Biasanya dia bergegas, menyeberang dengan cepat, ingin segera sampai di seberang jalan tempat dia menunggu mobil itu setiap sore tiba. Namun senja kali ini suasananya berbeda. Dia tak ingin bergegas, dia ingin menghentikan detak waktu sejenak, menikmati pemandangan macet menawan di mata… mungkin hanya hari ini saja. Lampu jalan mulai menyala pertanda bagi matahari untuk segera beranjak ke belahan bumi lainnya. Dia mulai menghirup nafas yang dalam. Nafas kebebasan sekaligus kerinduan yang menyesakkan. Berjalan menyeberang jalanan macet itu tampak melelahkan bagi jiwanya. Kakinya melangkah lesu di trotoar besar yang sedikit menggenang basah hujan tadi siang, namun tekadnya mantap dan tidak seorangpun dapat mengubahnya, kecuali Sang Takdir berkata lain. Matanya menatap nanar bangunan tua berdinding bata lima lantai yang sekarang berseberangan dengannya dan keputusannya. Lewat jendela besar di tengah bangunan tersebut, dia mengetahui lampu di dalamnya sudah tak menyala lagi. Dia mencoba mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Ke pohon-pohon palem tegar yang berdiri kokoh… ke sepanjang trotoar jalan yang bermotif wajik… ke tukang somay langganannya.. ke lampu-lampu gedung sebelah yang sebagian menyala pertanda masih berpenghuni… ke arah pejalan kaki yang berbondong-bondong tergesa… ke arah lampu-lampu mobil yang berpendar di korneanya. Tidak kuasa dia menahan aliran hangat di kedua pipinya, perempuan itu menunduk, seraya mengambil cardigan hitam untuk sedikit mengusir kegundahan hatinya di kala senja itu tiba. Mobil yang dia tunggu tampak datang dari kejauhan, kali ini dia bergegas. Pijakan kakinya mantap, keputusannya bulat. Mobil berwarna perak didepannya berhenti. Perempuan itu membuka pintunya dengan anggun, sebelum masuk ia memandang sekilas semuanya sekali lagi, dan rintik hujan menemani kepulanganku. Tebet, 23 Juli 2009

21 Jul 2009

Aku tak sabar menanti, saat mata kita menatap… Kala itu aku akan melihat sendiri ke dalam jurang hatimu. Disanalah kata akan menepi, karna usai tugasnya menyampaikan. Yang ada hanya diam yang bercakap mesra di balik senyummu, dan itu saja cukup.

11 Jul 2009

Reality

Tiba2 aku lumpuh.

Mati rasa.

Dingin.

Beku dalam paparan sinar matahari.

Aku ketakutan amat sangat, karna sadar yang tersisa hanyalah tumpukan sesuatu yang mengering, kisut, dan hampir mati.

Sumbu itu memudar nyalanya, dan sekarang angin barat meniup pijar api kecilnya.

Kita bermimpi....,

namun impian kita senyap ditelan samudra.

Yang tersisa tinggal buih, dan sosok-sosok yang terapung di atasnya.

Hanya menanti kemana gelombang membawa.

26 Jun 2009

My Precious 5 Months...

Mega Kuningan, 26 Juni 2009 Saya tidak pernah mengira akan merasakan hal ini. Rasa rindu yang datang terlalu cepat, kehilangan yang tiba terlalu awal. Hmmmppphh.. Mencoba menahan air mata, saya menulis. Tulisan pertama dan terakhir di suasana kantor Time Out yang bergegas pindah. Rasanya baru kemarin saya menunggu giliran interview di ruang meeting skaligus ruangan serbaguna dibelakang saya… Sesaat terdiam… mengamati dinding-dinding kaca bisu bersedih yang merasa ditinggalkan. Hari ini ruangan kantor terasa lebih senyap. Tidak pernah sesulit ini saya mengklik ikon “send” di Microsoft outlook beralamatkan nila@timeoutjakarta.com. Surat perpisahan untuk rekan kerja. Sedih yang sulit ditutupi karna berarti secara resmi saya menyatakan beranjak dan berbelok. Tanpa tau persimpangan mana yang akan mempertemukan kami di kemudian hari. Atau masihkah ada persimpangan-persimpangan seperti itu ?? Hanya Sang empunya masa depan yang tau pasti. Dear all, This is to inform that, by Monday June 29th 2009 I am no longer working at Time Out Jakarta with all of you. Thank you for all experiences during 5 months I worked here. The experience I have made during my employment here will be truly memorable for years to come. I hope to see you again and we can still keep in touch. It’s been a pleasure that I can work with all of you, and also I would like to say sorry if I have any mistake. Once again, thanks and more success for Time Out Jakarta, especially in your new office ! God Bless you all ! Kindly Regards, Nila Nafiri 08128603570; 92561037 nila_nafiri@yahoo.com Send…